KETEGASAN KIAI ZAINAL
Oleh: Iip Dzulkifli Yahya
Saat mengaji di Krapyak (1983-86),
saya masih bocah berusia belasan. Gus Hilmi yang saat ini sudah menjadi salah
satu pemangku pesantren, adalah adik kelas saya. Level saya adalah menamatkan
bacaan Al-Quran bin nazhor kepada Kiai Zaini.
Saya belum masuk kelas Kiai Zainal
yang terbilang tinggi. Namun, beruntung saya masih mendapatkan kesempatan
sorogan setiap pagi (wajib bagi semua santri) kepada Kiai Ali Maksum yang saat
itu masih menjadi Rais Aam PBNU.
Saat kelas 3 Mts, semua siswa
dikumpulkan di asrama B bersebelahan dengan siswa kelas 3 MA. Nah, letak
asarama B ini (waktu itu) persis di sebelah kediaman Kiai Zainal. Dengan
demikian, sekalipun saya tidak sempat mengaji langsung, interaksi fisik dengan
beliau hampir setiap hari. Tutur katanya yang santun, hidupnya yang bersahaja
kemana-mana naik sepeda, dan membujang, tak luput dari amatan saya. Waktu itu
ibundanya masih ada dan tinggal bersama beliau.
Konon, beliau baru akan menikah jika
Sang Ibu sudah wafat karena tidak ingin istrinya kelak "bentrok",
yang akan mengakibatkan ibunya sakit hati. Ingat kisah Uwais Al-Qarny, kan? Dan
memang benar, setelah Sang Ibunda wafat, beliau menikah setelah
"dijodohkan" oleh Kiai Ali. Hajatan besar saat itu dan kami semua
ikut menyaksikannya.
Ada dua peristiwa yang masih kuat
dalam ingatan saya tentang Kiai Zainal. Suatu hari, beliau meminta saya
membelikan obat nyamuk ke warung. Satu hal yang paling membahagiakan santri
adalah menjalankan dawuh kiai. Saya menerima uang 100 rupiah yang beliau
berikan. Saya bergegas pergi ke warung terdekat dan segera mengantarkan pesanan
bersama uang kembaliannya.
"Dzulkifli, kok kembaliannya
lebih 25 rupiah? Tempo hari seingat saya harganya 100," Kiai Zainal
"protes" dan meminta saya mengembalikan kelebihan uang itu.
Saya agak bingung. "Harganya
memang 75 rupiah kok, Kiai."
"Ooh ya sudah, ini ambil buat
kamu," ujar beliau sambil memberikan uang kembalian itu.
"Kelebihan" 25 perak saja
ternyata beliau nggak mau.
Lain waktu, di mata saya yang masih
bocah, terjadi peristiwa yang luar biasa di masjid Krapyak, pada suatu hari
Jumat yang bertepatan dengan giliran Kiai Ali memberikan khutbah. Awalnya
khutbah berjalan lancar dan Kiai Ali sudah sampai pada doa penutup khutbah
kedua.
Sebelum beliau turun, Kiai Zainal
berdiri dan menyampaikan sesuatu. Lalu Kiai Ali kembali pada posisi khatib dan
mengulangi dua khutbah Jumat secara cepat. Rupanya, pada khutbah kedua yang
awal tadi beliau kelewat membaca "ittaqullah" yang merupakan rukun
khutbah.
Tentu saja "keberanian"
Kiai Zainal mengingatkan Kiai Ali dengan cara yang santun itu sangat
mengesankan bagi saya. Beliau benar-benar ahli fiqh yang menerapkan fiqh dalam
kesehariannya yang dibarengi jalan hidup zuhud yang sangat langka dipraktikkan
lagi.
Alhamdulillah... saya berkesempatan
berinteraksi dengan Kiai Zainal. Sekalipun dalam segala keterbatasan usia saya
waktu itu, saya masih bisa mendapatkan hikmah dari kehidupan beliau. Lahul
fatihah.
*Penulis adalah santri Krapyak yang
kini tinggal di Australia

1 comments - Skip ke Kotak Komentar
tes
Post a Comment